Jumat, Mei 25, 2012

Mengingat Senyap di Museum Yuz

Sumber foto : yusmuseum.com

Puluhan orang berdiri di ruangan Yuz museum. Mereka mendengarkan kata sambutan pembukaan pameran “Mengigat Senyap” karya Dadang Cristanto, Sebagian peserta membuka-buka majalah sunyi senyap yang dibagikan panitia pelaksana kemarin sore (24/05).

Liong Huaw Ming, Orang yang dianggap paling berjasa atas tersenggalaranya pameran ini, memaparkan “Pemeran mengigat senyap adalah acara kita bersama. Acara membuktikan museum Yuz untuk publik. Museum Yuz didedikasikan untuk publik seni rupa”. Pameran Mengingat Senyap adalah pameran yang ke 9 sejak Museum Yuz didirikan pada tahun 2008 yang lalu.

Huaw Ming bercerita latar belakang munculnya keinginan menampilkan karya khas Indonesia di Museum Yuz, dimana sebelumnya Museum Yuz identik dengan pameran budaya china. “3 tahun yang lalu, Saya datang dengan kritis, saya bilang “Pak. Jangan pemeran cina melulu, bingung saya melihatnya”. Pak Budi bertanya “yang mana di Indonesia?”. Pak Budi menantang saya dan kemudian bilang “Ok, Saya terima”. Hari ini museum Yuz membuktikan karya lokal bisa tampiL di Museum Yuz” Ucap Huaw Ming. Budi adalah salah satu menager museum Yuz.

“Acara ini kita matangkan 1,5 tahun yang lalu, tetapi komunikasi sudah terjalin sejak 3 tahun yang lalu dengan Bapak Dadang Cristanto”. Lanjut Huaw Ming dalam kata sambutannya sekaligus membuka pameran "Mengingat Senyap".

Agung Hujatnikajennong sebagai kurator pameran mengatakan “Keunikan mas dadang karena terlahir pada tahun 70an, dimana masa itu kondisi sosial politik tertekan oleh pemerintahan orde baru. Mas dadang hadir dengan menampilkan karya – karya yang penuh dengan kritik sosial politik dalam negeri. Itulah keunikan karya mas dadang”.

“Karya mas dadang akrab dengan kepala, kepala botak, yang diawali dengan proyek menghitung korban dengan perupaan baru. Sebagian besar karya dalam pameran ini adalah adaptasi atau eksplorasi mas dadang dalam simbol pakuwon, penanggalan era hindu dan kemudian masyarakat penganut kepercayaan jawa dijadikan simbol karakter orang, peruntungan, dan jodoh yang dihitung berdasarkan penanggalan ini” ucap Agung.

Dadang Cristanto, dalam sambutannya merefleksi munculnya ide-ide yang ditampilkan dalam museum Yus. Dadang atau Tanto mengatakan “Pada awalnya berangkat dari kekosongan. Saya tinggal di Yogyakarta dan disana ada pengrajin tembikar. Tanah liat sangat murah sekali dibandingkan di Jakarta. Lalu, setiap pagi keliling naik sepeda, kebetulan tempat tinggalku tidak jauh dari pembuat tembikar”.

“Saya keliling desa setiap pagi, tidak jauh saya ketemu dengan teman saya. Teman saya  pengrajin wayang cuman berjarak 3 kilometer. Teman saya banyak memberi masukan tentang budaya hindu jawa yang luar biasa. Yang berangkali dulu, saya tidak kagum dengan warisan budaya semacam ini. Kedatangan kali ini terlelap mataku melihat keindahan ini”. Kata tanto.

Teman yang dimaksud Tanto adalah Subandi Giyanto, Seorang guru kesenian yang merupakan sahabatnya semasa sekolah di Sekolah Seni Rupa Indonesia. Giyanto terlahir di keluarga pengrajin wayang. Sejak umur 7 tahun sudah terlatih untuk menata dan menyungging wayang. Sugiyanto yang banyak memberi masukan Pakuwon kepada dadang Cristanto. Komunitas Sugiyanto berada di desa Gantheng, Kasongan, Yogyakarta.

“Yang kedua, saya jalan lagi tidak jauh dari tempat tinggalku, ada pengecoran logam yang juga terampil sekali. Inilah potensi-potensi yang memungkinkan berangkat dari kekosongan lalu lahirlah karya seperti ini. Artinya bahwa radius 5 kilometer ketika mencoba investigasi berangkali bisa menghasilkan sesuatu yang sangat menggairahkan”. tutup Tanto.

Karya Dadang Cristanto dalam museum Yuz disimpan mulai dari lantai dasar sampai lantai empat. Lantai dasar berisi patung kepala setinggi semeter yang diberi judul “wajah tak pernah lengkap”. Karya lain dilantai dasar berupa lukisan cat air diatas kain kanvas yang diberi nama “Pakuwon 1”, “Pakuwon 2” dan “Pakuwon 3”.

Lantai 2 museum Yuz berisi sepuluh patung yang diberi judul “mereka pernah bermimpi”. Monumen sepuluh tokoh gerakan kiri Indonesia seperti pramoedya ananta toer, Amir Syarifuddin, Sulasmi, Tan Malaka, Sudisman, Haji Misbach, Widji Tukul, Njoto, Soekarno dan Aidit.

Instalasi di Lantai 3 berisi 75 buah kepala  yang terbuat dari tembaga. Susunan kepala berurut 1 – 9 – 65, tahun dimana pembataian terhadap anggota Partai Komunis Indonesia PKI terjadi.

Lantai 4 museum Yuz berisi sebuah kamar berukuran 280x280 meter, yang terbuat dari kaleng bekas minyak dengan warna merah, biru, ijo, kuning, hitam, coklat dst. Dalam kamar terdapat ratusan kepala yang tersusun dalam rak-rak yang berwarna hitam pekat. Karya ini diberi judul “disini kutemukan kalian”.

Karya yang ditampilkan Dadang Cristanto bercerita melalui media lukisan diatas kanvas dan patung. Cerita tentang kehidupan manusia Indonesia dari zaman Hindu sampai sekarang. Kehidupan manusia tetap sama, Penguasa yang dulunya dewa Ramayana selalu menertawai kehidupan manusia yang sengaja disetting dengan penuh kekerasan dan korupsi. Kehidupan ini tergambar dalam lukisan pakuwon 1 dilantai dasar. Dewa Ramayana selalu berada diatas, membiarkan macan melakukan kekerasan dan celeng babi yang suka korupsi. Manusia biasa dengan sketsa kepala warna putih selalu menjadi korban kebiadaban penguasa.

Pada masa kolonial ditandai dengan cengkraman penguasa terhadap orang biasa. Ketika manusia biasa tidak bekerja sama dengan penguasa, maka akan jatuh dan terpanggang dalam bunga-bunga api dan menjadi tengkorak. Hal ini terlihat dalam patung “Wajah tak pernah lengkap”. Dewa Ramayana yang mengenakan sepatu tentara kolonial selalu mengungkung kehidupan umat manusia dengan tetap memegang rambut, tangan atau bagian tubuh lainnya. Pikiran manusia waktu itu hanyalah kekerasan dan kuasa belaka.

Perubahan dalam negeri ditandai dengan kekerasan 1965, dimana jutaan manusia tidak bersalah dituduh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia PKI dan dibunuh secara kejam oleh penguasa. Salah satu korban kekerasan pada waktu itu adalah orang tua Dadang Cristanto. Umur Dadang Cristanto waktu itu baru sekitar 8 tahun. Gambaran ini terlihat dalam karya di lantai 3 berisi 75 buah kepala yang terbuat dari tembaga dengan susunan 1-9-65.

Dalam proses penghapusan politik partai sosialis komunis Indonesia beberapa tokoh dalam negeri menjadi korban keganasan penguasa Seperti Njoto, Aidit, Sukarno, Tan Malaka, Pram, Amir Syarifuddin dsb. Pembungkaman Ide-ide sampai pembunuhan secara sadis.

Perubahan dalam negeri ditandai juga dengan peristiwa kejatuhan Presiden Suharto tahun 1998 yang lalu. Salah satu tokoh kiri yang menjadi korban adalah Widji Tukul, seniman yang selalu meneriakkan perlawanan terhadap penguasa otoriter Suharto. Widji Tukul hilang sampai sekarang, entah dimana jasadnya?. Penguasa sangat kejam terhadap orang-orang yang berbeda pemikiran dengannya. Cerita ini tergambar dalam monumen tokoh reformasi 98, Widji Tukul di Lantai 2 museum Yuz. Bukan hanya itu, reformasi menghasilkan ratusan korban dalam kerusuhan mei 1998.

Kekerasan tidak berhenti sampai disitu, kekerasan terhadap manusia Indonesia  terjadi sampai sekarang. Orang biasa Indonesia dibunuh secara kejam akibat konflik sumber daya alam dengan pengusaha dan penguasa. Contoh konflik sumber daya alam yang mengakibatkan korban adalah konflik lahan minyak dan berbagai konflik lainnya seperti pertanahan, pertambangan, pembangunan dll. Hal ini tergambar dalam karya Dadang Cristanto di lantai empat, dalam sebuah kotak yang terbuat dari kaleng bekas minyak berisi ratusan kepala manusia. Kaleng bekas itu berwarna warni untuk menandakan berbagai konflik yang mengakibatkan korban manusia biasa di Indonesia. Namun, sampai kapan pembantaian manusia Indonesia bisa berhenti ?. Kita tunggu Karya selanjutnya.

Untuk memberikan interpretasi baru terhadap karya Dadang Cristanto, silahkan mengunjungi Museum Yuz, Darmawangsa Square, Jalan Darmawangsa VI dan IX, Jakarta Selatan. Acara pameran “Mengingat Senyap” akan berlangsung mulai 24 Mei sampai 24 Agustus 2012.

1 komentar:

  1. Sugeng riyanto29 Mei 2012 10.38

    mas Dadang Christanto , saya kagum denganmu
    Begitu pedulinya dirimu dengan keadaan umat manusia di negeri ini .
    yang berkuasa semena-mena . rakyat kecil jadi mangsanya.
    selamat berkarya terus mas Dadang Christanto

    BalasHapus